STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS
PADA KLIEN TUNA RUNGU
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konseling Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M. Pd
Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B
A. Identitas Klien
Nama : Mimin (Disamarkan)
Umur : 17 Tahun
Alamat : Desa Cikeusal
Hobby : Bernyanyi
Kelas : 8
Jenis Kebutuhan Khusus : Tunarungu
B. Kasus
Mimin merupakan seorang siswi yang duduk di kelas 8, ia merupakan anak perempuan yang berusia 17 tahun, mimin penyandang tunarungu tetapi mempunyai kemampuan yang setara dengan teman-teman nya dalam hal akademik. Mimin lahir dari lingkungan keluarga yang cukup mampu dalam ekonomi, mapan dalam pendidikan. Ayah mimin bekerja sebagai seorang wirausaha dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Sosok Ibu mimin sangat mensupport dalam hal apapun dan sangat menyayangi mimin, mimin memiliki saudara yang baik dan perhatian, selalu membantu setiap kesulitan yang mimin alami, baik dalam melakukan aktifitas di rumah maupun menyelesaikan tugas akademiknya.
Mimin menjadi tunarungu sejak ia lahir ke dunia, yang pada awalnya orangtua mimin tidak sadar bahwa anaknya tunarungu, setelah mimin berumur 3 tahun akhirnya orang tua mimin membawa mimin ke sebuah Rumah Sakit yang berada di daerah Serang Banten. Ternyata dokter mengatakan bahwa mimin mengalami tunarungu tingkat ringan yang dimana ia hanya dapat mendengar suara yang dekat dengan dia dan mengalami kesulitan merespon suara-suara yang agak jauh. Disekolah mimin selalu duduk ditempat paling depan tujuan nya agar mimin dapat mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya. Sudah berbagai usaha dilakukan oleh orangtua nya namun usaha tersebut tak kunjung menemukan hasil hingga keluarga hanya bisa pasrah pada takdir dari Yang Maha Kuasa.
Anak-anak penyandang tunarungu memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya :
Pribadi : Mimin merupakan pribadi yang menyenangkan, anak yang nurut kepada orang tua, dan mimin kurang merasa percaya diri karena keterbatasan yang ia miliki tersebut
Sosial : Dari aspek sosial nya mimin cenderung tidak ikut bergabung dengan masyarakat, atau teman teman yang lain untuk sekedar bermain. Ia lebih sering dirumah dan menyendiri atau bermain.
Belajar : Kemampuan mimin dalam belajar sama seperti anak yang lainnya, ia suka bernyanyi dan dapat memahami pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Namun terkadang ia juga sulit berkonsentrasi dalam proses belajar.
Keluarga : Di keluarganya mimin sangat diterima oleh seluruh anggota keluarganya, bahkan semua menyayangi mimin karena ia anak yang cantik dan baik, bahkan orangtua nya pun sudah menerima takdir ini.
Agama : Mimin anak yang rajin shalat dan rutin mengaji bersama ibunya dirumah.
Karier : Dalam aspek karier ini, sebetulnya mimin mempunyai hobby bernyanyi, dan ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi yang dapat ditonton oleh seluruh orang yang ada di Indonesia
Demikian studi kasus pada anak tunarungu. Terlepas dari itu, anak tunarungu juga merupakan anak titipan Tuhan yang harus tetap kita jaga apapun keadaanya. Karena dibalik fisik yang kurang sempurna, anak tunarungu tetaplah hamba pilihan Tuhan yang memiliki segenap kemampuan yang mungkin saja tidak pernah dilakukan oleh orang normal pada umumnya. Dengan menerima kehadirannya, maka hal ini adalah salah satu pada cara menghilangkan kecemasan anak tunarungu.
Berdasarkan studi kasus yang saya amati pada anak tunarungu. Hasilnya klien (Mimin) mempunyai masalah dalam bidang Pribadi dan Sosialnya, menurut saya mengapa ia memiliki masalah dalam bidang sosial nya karena adanya rasa ketidakpercayaan diri dari pribadinya. Mimin tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan nya karena ia merasa tidak percaya diri akan kekurangan yang mimin miliki.
Dengan begitu saya menyimpulkan untuk memberikan Pendekatan Behavioral. Menurut saya, dengan menggunakan pendekatan behavioral ini Mimin akan mengalami perubahan tingkah laku, dari yang awalnya merasa tidak percaya diri menjadi percaya diri. Karena Pendekatan behavioral adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
Untuk mengatasi masalah ketidakpercayaan diri maka saya memilih memberikan Teknik Konseling Individual dan Teknik Bimbingan Kelompok. Karena dengan teknik konseling individual konselor berupaya membantu klien secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan Anak Tunarungu bernuansa emosional, sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia
batinnya (disclosure).
Atau dapat juga dengan menggunakan Teknik Bimbingan Kelompok untuk bisa mengamati kekompakan dan
keaktifan anak tunarungu bersama teman temannya, agar anak mau berekspresi dan percaya diri dalam proses bimbingan kelompok ini.
Sekian…
Semoga Bermanfat dan Terimakasih
Sumber : Suhendra Dedi, UPAYA DALAM MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI ANAK TUNAGRAHITA DI SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI TANJUNG
JABUNG TIMUR (Jambi : 2021), UIN Sutha Jambi, Hal. 52-54
Pratiwi, Novianti, Pendekatan terapi behavioral dalam meningkatkan kepercayaan diri santri : penelitian di pondok Pesantren Nurul Huda (Bandung : 2016), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, hal.20