Studi Kasus (Study Case) Tunaghrita

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS
PADA KLIEN TUNAGHRITA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konseling Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M. Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : AAN (Disamarkan)
Umur : 12 Tahun
Alamat : Yogyakarta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD Kelas 4 di SLB N Pembina Yogyakarta
Jenis Kebutuhan Khusus : Tunaghrita

B. Kasus
AAN teridentifikasi sebagai amak tunaghrita kategori sedang. AAN merupakan anak tunggal dan hanya tinggal bersama kedua orangtuanya. AAN setiap harinya berangkat ke sekolah bersama ibunya mengendarai sepeda, ibu AAN selalu menemani AAN di sekolah. Ayah AAN bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan ibu AAN merupakan ibu rumah tangga. AAN selalu ditemani ibunya ketika AAN di dalam kelas saat mengikuti KBM ibunya menunggi di taman, saat jam istirahat berlangsung.

AAN sudah bisa makan sendiri tetapi masih berceceran, sudah bisa toileting, sudah bisa mandi sendiri, sudah bisa memakai baju sendiri yang tidak berkancing dan sudah bisa memakai sepatu yang tidak bertali. Sedangkan kemampuan akademiknya masih dikatakan kurang seperti dalam membaca AAN belum bisa membaca kata yang sederhana tetapi sudah bisa mengenalu huruf abjad walaupun kalau diulangi kembali ia masih lupa dengan urutan nya. Kemampuan nya dalam menulis dapat dikatakan sudah rapi tetapi masih harus dibantu dengan garis putus-putus, AAN dapat menulis namanya sendiri. Sedangkan dalam kemampuan berhitung AAN belum bisa sama sekali walaupun menghitung operasi bilangan sederhana.

Anak-anak penyandang tunaghrita memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya :

1. Pribadi
AAN memiliki perilaku agresif jika fisiknya sedang kelelahan atau keadaan fisik dari cuaca

2. Sosial
AAN tidak mempunyai banyak teman karena prilaku AAN sendiri yang membuat teman-teman lain takut berteman dengan AAN. Dan AAN sering diteriaki dengan sebutan ‘bebek tuo’ oleh karena itu AAN marah dan tidak ingin bermain lagi dengan teman sebaya di lingkungan nya

3. Belajar
Kemampuan AAN dalam belajar masih dikatakan kurang seperti dalam hal membaca, mengeja dan berhitung.

4. Keluarga
AAN sangat dekat dan manja dengan ibunya, ibunya selalu bersamanya. Sedangkan hubungan AAN dengan ayahnya tidak begitu dekat, disebabkan karena ayahnya pagi bekerja dan pulang malam hari ketika AAN sudah tertidur.

5. Agama
Dalam bidang agama, ibu AAN selalu mengajak AAN shalat bersama walaupun ia sering kali hanya mengacak-acak sajadah atau mukena ibunya.

6. Karier
AAN menyukai sepak bola, namun tak jarang ia selalu ditolak untuk gabung bermain dengan teman yang lainnya.

Demikian studi kasus pada anak tunaghrita. Terlepas dari itu, anak tunaghrita juga merupakan anak titipan Tuhan yang harus tetap kita jaga apapun keadaanya. Karena dibalik fisik yang kurang sempurna, anak tunaghrita tetaplah hamba pilihan Tuhan yang memiliki segenap kemampuan yang mungkin saja tidak pernah dilakukan oleh orang normal pada umumnya. Dengan menerima kehadirannya, maka hal ini adalah salah satu pada cara menghilangkan kecemasan anak tunaghrita.

Sumber:

Asyifa, Ainun, Reza, STUDI KASUS PERILAKU AGRESIF ANAK TUNAGRAHITA KATEGORI SEDANG KELAS IV SDLB DI SLB N PEMBINA YOGYAKARTA (Yogyakarta : 2017) Universitas Negeri Yogyakarta, hal 67-89.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai