Studi Kasus (Study Case) Tunadaksa

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK TUNADAKSA.
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : BR (Disamarkan)
Umur : 8 Tahun
Alamat : Yogyakarta
Pendidikan : SDN Margosari
Jenis Kebutuhan Khusus : Tunadaksa

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini adalah satu orang siswa kelas 2 di SD Negeri Margosari yang bernama BR (bukan nama sebenarnya). BR lahir di Kulon Progo pada tanggal 18 Agustus 2007. BR merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari seorang ayah bernama KN (bukan nama sebenarnya) dan seorang ibu bernama APN (bukan nama sebenarnya). Kedua saudara BR berjenis kelamin laki-laki yang satu masih berada di Taman Kanak-Kanak dan yang paling kecil masih berusia 9 bulan. Sejak umur 2 bulan BR telah diasuh oleh seorang perempuan paruh baya bernama RF (bukan nama sebenarnya).

Pekerjaan KN ayah BR adalah seorang anggota kepolisian. Sedangkan APN ibu BR adalah seorang salah satu staff di sebuah sekolah. BR merupakan anak perempuan yang memiliki anggota gerak lengkap, 2 tangan dan 2 kaki. Kelainan yang terjadi pada BR yaitu berupa kekakuan pada anggota gerak yakni kedua tangan dan kedua kaki. BR tidak mampu berjalan sehingga BR harus menggunakan kursi roda untuk membantu mobilitas BR. BR juga mengalami sedikit kesulitan dalam
menggerakkan kedua tangan. Jari-jari BR tampak kaku dan kurang bisa menggenggam.

Anak-anak penyandang tunadaksa memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya

1. Pribadi :
BR memiliki rasa kurang percaya diri / malu saat diajak berkomunikasi.

2. Sosial :
BR memiliki banyak teman di sekolah dan di lingkungan rumahnya, hanya saja ketika orang orang hendak bermain BR hanya bisa menjadi penonton/penyemangat dalam bermain karena kesusahan dalam anggota gerak.

3. Agama :
BR dapat mengaji dan ketika sholat ia selalu melakukannya diatas kursi roda dengan bantuan orangtuanya.

4. Belajar :
Kemampuan BR dalam bidang akademis cenderung baik. Ketika menjawab soal dan menuliskannya di buku BR mampu menjawab dengan tepat. Namun dengan kecacatan yang di miliki BR, BR sangat sulit ketika diminta untuk maju menuliskan jawaban BR di papan tulis serta BR tidak pernah sama sekali ikut berebut dalam menjawab soal rebutan yang diberikan oleh guru. Sementara dalam bidang non akademis yang berkaitan dengan fisik maka BR akan lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain, jadi ia hanya hadir untuk menyaksikan pada saat jam pelajaran penjasorkes dan seni tari namun tidak dapat ikut berpartisipasi.

5. Keluarga :
BR memiliki keluarga yang harmonis dan menyayanginya.

6. Karier :
BR selalu ingin menjadi penulis, ia selalu semangat ingin menjadi penulis yang hebat.

Demikian studi kasus pada anak tunadaksa. Terlepas dari itu, anak tunadaksa juga merupakan anak titipan Tuhan yang harus tetap kita jaga apapun keadaanya. Karena dibalik fisik yang kurang sempurna, anak tunadaksa tetaplah hamba pilihan Tuhan yang memiliki segenap kemampuan yang mungkin saja tidak pernah dilakukan oleh orang normal pada umumnya. Dengan menerima kehadirannya, maka hal ini adalah salah satu pada cara menghilangkan ketidakpercayaan diri pada anak tunadaksa.

SUMBER :
Hesti A Pancawati, SELF EFFICACY PADA ANAK TUNADAKSA DI SD NEGERI MARGOSARI, PENGASIH, KULON PROGO (Yogyakarta : 2016) Universitas Negeri Yogyakarta, hal 63-64.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai