TUNA LARAS

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK TUNA LARAS
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : DK (Disamarkan)
Tempat / tanggal lahir: Aceh, 9 April 1996
Agama: Islam
Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara
Alamat: Sarijadi

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini adalah salah satu anak yang bernama DK (bukan nama sebenarnya). DK merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara dari seorang ayah bernama Sarmudin dan seorang ibu bernama Rokayah. Umur ayah DK yaitu 52 th sedangkan umur ibu DK yaitu 48 th. Ayah DK bekerja sebagai buruh harian lepas dan ibunya bekerja sebagai penjual sayur keliling. Alamat Kp.Sarijadi.

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (1975) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Dan anak yang mudah emosi

Anak-anak penyandang tunalaras memiliki karakteristik yang berbeda dari anak normal pada umumnya:

Pribadi :
DK cenderung memiliki kondisi emosional yang tidak stabil.

Sosial :
DK bergaul atau berhubungan sosial baik hanya dengan anak-anak normal, teman sebaya yang menuruti kehendaknya. Tapi dengan orang dewasa sulit. Komunikasi dengan orang lain ada walau menggunakan bahasa yang kasar.

Agama :
DK tidak pernah mengaji akan tetapi dia sering ikut shalat berjamaah di mushola

Belajar :
DK kurang terfokus, mudah teralihkan kepada hal-hal yang menurutnya menarik. Konsentrasi kurang, memori atau ingatan pendek, IQ sedang, kurang menghasilkan ide. Koordinasi gerak kadang-kadang tidak terkendali, motoriknya kurang. Persepsi cendrung berbeda dari lingkungannya.

Keluarga :
Kepedulian orangtua DK terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan, disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah

Karier :
Dk memiliki keinginan menjadi atlit sepak bola yang gagah seperti yang ia idolakan.

Dalam membantu pemulihan prilaku dan emosi anak tidak akan bisa dilakukan secara instan, tetapi juga harus bertahap. Tekhniknya berupa pendekatan secara langsung ke anak dan melalui teman sebaya anak. Buatlah agar anak merasa nyaman. Ciptakan lingkungan yang aman , yang menghormati hak bagi semua anak, yaitu lingkungan yang meningkatkan kesempatan untuk bisa berhasil meraih prestasi dan mengoptimalkan potensi.

Agar dapat terfokus dengan satu permasalahan saja, maka saya mengambil permasalahan pribadinya. Karena menurut saya permasalahan dari bidang pribadi ini sangat berpengaruh terhadap bidang bidang yang lain. Di dalam bidang pribadi DK memiliki permasalahan cenderung emosi nya tidak stabil sehingga terjadi nya perilaku perilaku yang kurang baik bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Berbagai terapi bagi anak tunalaras sangat banyak dan salah satunya adalah Terapi tingkah laku (Behavior Therapy). Dengan menggunakan terapi behavior maka anak dapat mengendalikan emosinya sesuai dengan cara cara yang diajarkan oleh konselor. Ada 3 cara dalam mengubah tingkah laku:
A. Tingkah laku dapat diubah dengan mengubah peristiwa-peristiwa yang mendahului yang membangkitkan tingkah laku khusus, contoh: anak hiperaktif tidak bisa tenang jika belajar dalam kelas yang terdapat banyak rangsangan.

b. Suatu jenis tingkah laku yang timbul dalam suatu keadaan tertentu dapat diubah dan dimodifikasi, misal dalam keluarga anak kurang mendapat perhatian, maka dalam sekolah guru harus memberi perhatian lebih.

c. Akibat dari suatu tingkah laku tertentu dapat diubah; dengan demikian tingkah laku bisa dimodifikasi, misalkan seorang anak mencuriia dihukum akibat dari perbuatannya.

Tujuan Terapi Tingkah Laku
Setiap kegiatan terapi mempunyai tujuan seperti halnya terapi tingkah laku, berikut ini adalah tujuan terapi tingkah laku menurut (Nafsiah Ibrahim, 1995:115) :

a. Mengubah pola-pola perilaku maladaptip dan membantu klien (anak tunalaras) untuk mempelajari tingkah laku yang konstruktif.

Tujuan utama terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi yang baru dalam proses belajar. Hal ini didasarkan bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptip jika suatu tingkah laku juga dapat dihilangkan dan tingkah laku yang lebih efektif diperoleh.

Sebaiknya jika dilingkungan kita terdapat anak tuna laras ataupun anak nerkebutuhan khusus, jangan kita jauhi, tapi justru kita bantu dengan cara membimbing ia agar dapat merasa bahwa ia tidak di asingkan oleh lingkungan sekitarnya.

“Dalam berlatih jangan terburu-buru, karena segala sesuatu memerlukan waktu. Jangan pernah menganggap diri sendiri tahu segalanya dan mampu menguasai segala sesuatu dengan sempurna. Kau harus terus berlatih dengan teman dan muridmu setiap hari, karena dengan merekalah kau akan mencapai kemajuan. (Morihel Uesniba)”

Sumber :

Boy Pandra, Anak Tunalaras (Juli : 2021) Diakses pada 10 April 2022.

Ibrahim, Nafsiah & Aldy, Rohaba. 1996. Etiologi dan Terapi Anak Tunalaras. Jakarta: FIP IKIP

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai