Studi Kasus (Study Case) Konseling Berkebutuhan Khusus Pada Anak Autisme.

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK AUTISME
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : Egi (Disamarkan)
Tempat / Tanggal Lahir : Kudus, 22 April 2008
Agama : Islam
Alamat : Kabupaten Kudus

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini adalah salah satu anak bungsu dari ayah yang bernama Muhamad yang usianya 53th dan ibu nya bernama Saniah yang usianya 41th. Muhamad bekerja sebagai buruh harian lepas sedangkan ibunya

Gangguan autisme merupakan salah satu dari anak berkebutuhan khusus, istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004). Seorang yang mengalami gangguan autis, memiliki suatu gangguan kelainan neurologis yang sering kali mengkibatkan ketidak mampuan interaksi komunikasi dan sosial. Penyebab gangguan autis adalah penyakit atau luka di daerah-daerah tertentu di otak, polusi lingkungan oleh timbal, aluminium dan air raksa, disfungsi imunulogi, gangguan masa kehamilan serta abnormalitas system gastrointernal.

Anak autisme memiliki karakteristik yang berbeda dari anak normal pada umumnya:

Pribadi:
Suka menyendiri dan memiliki sulit berkomunikasi dengan siapapun

Sosial :
Egi tidak memiliki banyak teman karena ia tidak sering ikut bermain bersama anak anak lainnya, dikarenakan beberapa penyebab sehingga ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Selalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Agama :
Egi sulit diajari untuk melakukan ibadah ibadah.

Belajar :
Egi mempunyai kesulitan dalam hal belajar dan berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal.

Keluarga :
Kepedulian orang tua egi terhadap keadaan pribadi nya sosial nya dan belajar nya cenderung kurang.

Karier :
Egi memiliki beberapa mimpi yaitu ingin menjadi pelukis karena ia senang melukis tetapi banyak yang menjadikan mimpi itu terhambat karena beberapa faktor.

Dalam membantu pemulihan saat ini penanganan untuk anak dengan gangguan autis sudah beragam, mulai dari penanganan sendiri yaitu penanganan yang dilakukan oleh orangtua sampai penanganan yang dilakukan oleh terapis, pada dasarnya
penanganan tersebut dibedakan melalui dua metode yang berbeda yaitu medis dan nonmedis.

Penanganan yang akan saya lakukan jika ia merupakan klien saya maka saya akan memberikan ia penanganan dengan pendekatan behavioral.

Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar: Pembiasaan klasikPembiasaan operan Peniruan. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

  • Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
  • Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
  • Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
  • Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan lingkungan. Tingkah laku yang tidak wajar menurut standard nilai, yang kemudian menimbulkan konflik dengan lingkungan.

Di dalam kasus ini klien Egi bermasalah pada beberapa bidang yaitu seperti sulit berkomunikasi dengan orang lain, sering menyendiri, sulit dalam hal belajar, dan kurangnya kepedulian dari anggota keluarga yang lain.

Pada umumnya peran orangtua dalam mengamati tumbuh kembang, tanggap serta peduli anak sangat diperlukan sehingga apabila anak mengalami
gangguan perkembangan dan pertumbuhan dengan anak-anak seusianya maka akan cepat terdeteksi dan akan memudahkan proses penyembuhan.

Selain diberikannya layanan konseling individual dengan pendekatan behavioral maka diberikan juga penanganan dengan pendekatan spiritual. Dengan diberikannya layanan konseling individual dengan pendekatan behavioral maka kita sebagai ndividual dengan pendekatan behavioral maka kita sebagai konselor dapat mengamati permasalahan yang terjadi pada klien E dan diberikan beberapa treatment perubahan tingkah laku. Selain itu, dengan diberikannya pendekatan spiritual maka klien E agar lebih giat lagi beribadah kepada Tuhan-Nya dan agar selalu meminta pertolongan Nya dari setiap masalah yang dihadapi nya.

Sumber : Husna, Isqomalatul STUDI KASUS PENANGANAN ANAK AUTIS MENGGUNAKAN PENDEKATAN RELIGI DI PESANTREN AL-ACHSANIYYAH
DI KABUPATEN KUDUS : 2015 Diakses pada 11 Mei 2022.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai