STUDI KASUS (STUDY CASE) INDIVIDU BERBAKAT (GIFTED)

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA INDIVIDU BERBAKAT (GIFTED)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus.
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : S (Disamarkan)
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 21 Tahun

B. Kasus
S adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara, S paling unggul diantara anak yang lain. Tetapi S selalu dituntut untuk memenuhi semua keinginan orangtua nya, dan orang tuanya tidak pernah menghargai usaha yang sudah dilakukan oleh S. S memiliki banyak prestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Bidang BK

  1. Pribadi
    S merupakan orang yang baik dan ramah juga kritis terhadap kekuatan memorinya.
  2. Sosial
    S sangat baik dengan lingkungan sekitarnya.
  3. Belajar
    S sangat unggul dalam bidang ini terlebih dalam hal itung-itungan, S sangat unggul di bidang-bidang yang lainnya.
  4. Karier
    S secara karier sudah cukup banyak pencapaian yang dia peroleh di usia nya yang masih cukup muda ini.
  5. Keluarga
    Keluarga S kurang memperhatikan ia dalam hal apapun dan ketika mendapat pencapaian ia jarang sekali di apresiasi oleh keluarganya.
  6. Agama
    Dalam bidang ini S merupakan seorang hafidz quran dan pakaian nya selalu terlihat agamis.

Gifted adalah seseorang yang memiliki keunikan yang khusus dalam bidang intelektual (IQ di atas rata-rata), kreativitas dan komitmen yang tinggi sesuai dengan hasil tes. Istilah anak gifted atau gifted children dalam bahasa Indonesia adalah anak berbakat, anak luar biasa dan untuk anak-anak jenius.
Anak berbakat ialah mereka yang memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul, mampu memberikan prestasi atau memiliki kecerdasan yang tinggi sedang keberbakatan harus ditinjau secara multi dimensional.

Terimakasih
Semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Sumber :

Huzaemah, siti eem. Studi Kasus Individu Berbakat / Gifted. WordPress. (Juni:2021)

STUDI KASUS (STUDY CASE)

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK KESULITAN BELAJAR
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : Doni (Disamarkan)
Agama : Islam
Anak : Anak ke 1 dari 1 Bersaudara
Pekerjaan Ayah : Swasta
Pekerjaan Ibu : Wiraswasta

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini merupakan anak satu-satunya. Ia memiliki kelambatan dalam belajar. Tidak adanya minat seseorang terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.

Anak yang memiliki kekurangan lambat dalam belajar yaitu di deskripsikan sebagai berikut:

Pribadi:
kesulitan belajar pada siswa Madrasah
Tsanawiyah Al-Washliyah Tembung adalah Faktor Internal (hal-hal atau
keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa yaitu Intelegensi,
seperti yang dialami oleh subjek kasus Doni dia memiliki daya tangkap
yang rendah sehingga dia sulit untuk memahami materi pelajaran yang
dijelaskan oleh guru.

Sosial :
Di lingkungan teman sebaya doni banyak anak yang ekonomi nya dibawah rata-rata sehingga mereka tidak sekolah, mungkin ini juga menjadi penyebab mengapa doni memiliki minat yang rendah untuk belajar

Agama :
Kurang nya pemahaman agama dan spiritual lainnya.

Belajar :
Doni memiliki minat yang rendah terhadap proses belajar sehingga timbul kesulitan dalam belajar.

Keluarga :
Doni memiliki orangtua yang lengkap secara tidak langsung juga mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtua. Perhatian atau penghargaan kepada nya menimbulkan mental yang sehat bagi doni.

Karier :
Doni memiliki keinginan untuk melanjutkan karier nya sebagai programer tetapi karena ia memiliki kesulitan dalam belajar mungkin karier nya akan sedikit terhambat.

Kesulitan belajar adalah keadaan dimana individu tidak dapat belajar
sebagaimana siswa lainnya pada umumnya dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu sehingga ia terlambat atau bahkan tidak dapat mencapai tujuan belajar dengan baik sesuai yang diharapkan.

Masalah kesulitan belajar bagi guru
bimbingan konseling di Madrasah Tsanawiyah Al-Washliyah Tembung belum dianggap sebagai permasalahan serius, karenanya apabila ada siswa yang mengalami kesulitan belajar diserahkan sepenuhnya kepada wali kelas lalu apabila wali kelas butuh bantuan disinilah peran guru bimbingan konseling dibutuhkan untuk memberikan layanan bimbingan konseling kepada siswa tetapi hanya memberikan layanan dalam bentuk bimbingan klasikal.

Sumber : A.P. Rangkuti, STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR DAN PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING PADA SISWA MADRASAH TSANAWIYAH AL-WASHLIYAH TEMBUNG (Medan : 2018) Diakses Pada 17 Mei 2022 Pukul 15:45 WIB

Studi Kasus (Study Case) Konseling Berkebutuhan Khusus Pada Anak Autisme.

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK AUTISME
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : Egi (Disamarkan)
Tempat / Tanggal Lahir : Kudus, 22 April 2008
Agama : Islam
Alamat : Kabupaten Kudus

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini adalah salah satu anak bungsu dari ayah yang bernama Muhamad yang usianya 53th dan ibu nya bernama Saniah yang usianya 41th. Muhamad bekerja sebagai buruh harian lepas sedangkan ibunya

Gangguan autisme merupakan salah satu dari anak berkebutuhan khusus, istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004). Seorang yang mengalami gangguan autis, memiliki suatu gangguan kelainan neurologis yang sering kali mengkibatkan ketidak mampuan interaksi komunikasi dan sosial. Penyebab gangguan autis adalah penyakit atau luka di daerah-daerah tertentu di otak, polusi lingkungan oleh timbal, aluminium dan air raksa, disfungsi imunulogi, gangguan masa kehamilan serta abnormalitas system gastrointernal.

Anak autisme memiliki karakteristik yang berbeda dari anak normal pada umumnya:

Pribadi:
Suka menyendiri dan memiliki sulit berkomunikasi dengan siapapun

Sosial :
Egi tidak memiliki banyak teman karena ia tidak sering ikut bermain bersama anak anak lainnya, dikarenakan beberapa penyebab sehingga ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Selalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Agama :
Egi sulit diajari untuk melakukan ibadah ibadah.

Belajar :
Egi mempunyai kesulitan dalam hal belajar dan berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal.

Keluarga :
Kepedulian orang tua egi terhadap keadaan pribadi nya sosial nya dan belajar nya cenderung kurang.

Karier :
Egi memiliki beberapa mimpi yaitu ingin menjadi pelukis karena ia senang melukis tetapi banyak yang menjadikan mimpi itu terhambat karena beberapa faktor.

Dalam membantu pemulihan saat ini penanganan untuk anak dengan gangguan autis sudah beragam, mulai dari penanganan sendiri yaitu penanganan yang dilakukan oleh orangtua sampai penanganan yang dilakukan oleh terapis, pada dasarnya
penanganan tersebut dibedakan melalui dua metode yang berbeda yaitu medis dan nonmedis.

Penanganan yang akan saya lakukan jika ia merupakan klien saya maka saya akan memberikan ia penanganan dengan pendekatan behavioral.

Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar: Pembiasaan klasikPembiasaan operan Peniruan. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

  • Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
  • Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
  • Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
  • Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan lingkungan. Tingkah laku yang tidak wajar menurut standard nilai, yang kemudian menimbulkan konflik dengan lingkungan.

Di dalam kasus ini klien Egi bermasalah pada beberapa bidang yaitu seperti sulit berkomunikasi dengan orang lain, sering menyendiri, sulit dalam hal belajar, dan kurangnya kepedulian dari anggota keluarga yang lain.

Pada umumnya peran orangtua dalam mengamati tumbuh kembang, tanggap serta peduli anak sangat diperlukan sehingga apabila anak mengalami
gangguan perkembangan dan pertumbuhan dengan anak-anak seusianya maka akan cepat terdeteksi dan akan memudahkan proses penyembuhan.

Selain diberikannya layanan konseling individual dengan pendekatan behavioral maka diberikan juga penanganan dengan pendekatan spiritual. Dengan diberikannya layanan konseling individual dengan pendekatan behavioral maka kita sebagai ndividual dengan pendekatan behavioral maka kita sebagai konselor dapat mengamati permasalahan yang terjadi pada klien E dan diberikan beberapa treatment perubahan tingkah laku. Selain itu, dengan diberikannya pendekatan spiritual maka klien E agar lebih giat lagi beribadah kepada Tuhan-Nya dan agar selalu meminta pertolongan Nya dari setiap masalah yang dihadapi nya.

Sumber : Husna, Isqomalatul STUDI KASUS PENANGANAN ANAK AUTIS MENGGUNAKAN PENDEKATAN RELIGI DI PESANTREN AL-ACHSANIYYAH
DI KABUPATEN KUDUS : 2015 Diakses pada 11 Mei 2022.

TUNA LARAS

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK TUNA LARAS
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : DK (Disamarkan)
Tempat / tanggal lahir: Aceh, 9 April 1996
Agama: Islam
Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara
Alamat: Sarijadi

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini adalah salah satu anak yang bernama DK (bukan nama sebenarnya). DK merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara dari seorang ayah bernama Sarmudin dan seorang ibu bernama Rokayah. Umur ayah DK yaitu 52 th sedangkan umur ibu DK yaitu 48 th. Ayah DK bekerja sebagai buruh harian lepas dan ibunya bekerja sebagai penjual sayur keliling. Alamat Kp.Sarijadi.

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (1975) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Dan anak yang mudah emosi

Anak-anak penyandang tunalaras memiliki karakteristik yang berbeda dari anak normal pada umumnya:

Pribadi :
DK cenderung memiliki kondisi emosional yang tidak stabil.

Sosial :
DK bergaul atau berhubungan sosial baik hanya dengan anak-anak normal, teman sebaya yang menuruti kehendaknya. Tapi dengan orang dewasa sulit. Komunikasi dengan orang lain ada walau menggunakan bahasa yang kasar.

Agama :
DK tidak pernah mengaji akan tetapi dia sering ikut shalat berjamaah di mushola

Belajar :
DK kurang terfokus, mudah teralihkan kepada hal-hal yang menurutnya menarik. Konsentrasi kurang, memori atau ingatan pendek, IQ sedang, kurang menghasilkan ide. Koordinasi gerak kadang-kadang tidak terkendali, motoriknya kurang. Persepsi cendrung berbeda dari lingkungannya.

Keluarga :
Kepedulian orangtua DK terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan, disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah

Karier :
Dk memiliki keinginan menjadi atlit sepak bola yang gagah seperti yang ia idolakan.

Dalam membantu pemulihan prilaku dan emosi anak tidak akan bisa dilakukan secara instan, tetapi juga harus bertahap. Tekhniknya berupa pendekatan secara langsung ke anak dan melalui teman sebaya anak. Buatlah agar anak merasa nyaman. Ciptakan lingkungan yang aman , yang menghormati hak bagi semua anak, yaitu lingkungan yang meningkatkan kesempatan untuk bisa berhasil meraih prestasi dan mengoptimalkan potensi.

Agar dapat terfokus dengan satu permasalahan saja, maka saya mengambil permasalahan pribadinya. Karena menurut saya permasalahan dari bidang pribadi ini sangat berpengaruh terhadap bidang bidang yang lain. Di dalam bidang pribadi DK memiliki permasalahan cenderung emosi nya tidak stabil sehingga terjadi nya perilaku perilaku yang kurang baik bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Berbagai terapi bagi anak tunalaras sangat banyak dan salah satunya adalah Terapi tingkah laku (Behavior Therapy). Dengan menggunakan terapi behavior maka anak dapat mengendalikan emosinya sesuai dengan cara cara yang diajarkan oleh konselor. Ada 3 cara dalam mengubah tingkah laku:
A. Tingkah laku dapat diubah dengan mengubah peristiwa-peristiwa yang mendahului yang membangkitkan tingkah laku khusus, contoh: anak hiperaktif tidak bisa tenang jika belajar dalam kelas yang terdapat banyak rangsangan.

b. Suatu jenis tingkah laku yang timbul dalam suatu keadaan tertentu dapat diubah dan dimodifikasi, misal dalam keluarga anak kurang mendapat perhatian, maka dalam sekolah guru harus memberi perhatian lebih.

c. Akibat dari suatu tingkah laku tertentu dapat diubah; dengan demikian tingkah laku bisa dimodifikasi, misalkan seorang anak mencuriia dihukum akibat dari perbuatannya.

Tujuan Terapi Tingkah Laku
Setiap kegiatan terapi mempunyai tujuan seperti halnya terapi tingkah laku, berikut ini adalah tujuan terapi tingkah laku menurut (Nafsiah Ibrahim, 1995:115) :

a. Mengubah pola-pola perilaku maladaptip dan membantu klien (anak tunalaras) untuk mempelajari tingkah laku yang konstruktif.

Tujuan utama terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi yang baru dalam proses belajar. Hal ini didasarkan bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptip jika suatu tingkah laku juga dapat dihilangkan dan tingkah laku yang lebih efektif diperoleh.

Sebaiknya jika dilingkungan kita terdapat anak tuna laras ataupun anak nerkebutuhan khusus, jangan kita jauhi, tapi justru kita bantu dengan cara membimbing ia agar dapat merasa bahwa ia tidak di asingkan oleh lingkungan sekitarnya.

“Dalam berlatih jangan terburu-buru, karena segala sesuatu memerlukan waktu. Jangan pernah menganggap diri sendiri tahu segalanya dan mampu menguasai segala sesuatu dengan sempurna. Kau harus terus berlatih dengan teman dan muridmu setiap hari, karena dengan merekalah kau akan mencapai kemajuan. (Morihel Uesniba)”

Sumber :

Boy Pandra, Anak Tunalaras (Juli : 2021) Diakses pada 10 April 2022.

Ibrahim, Nafsiah & Aldy, Rohaba. 1996. Etiologi dan Terapi Anak Tunalaras. Jakarta: FIP IKIP

Studi Kasus (Study Case) Tunadaksa

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK TUNADAKSA.
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling berkebutuhan khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M.Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : BR (Disamarkan)
Umur : 8 Tahun
Alamat : Yogyakarta
Pendidikan : SDN Margosari
Jenis Kebutuhan Khusus : Tunadaksa

B. Kasus
Subjek dalam penelitian ini adalah satu orang siswa kelas 2 di SD Negeri Margosari yang bernama BR (bukan nama sebenarnya). BR lahir di Kulon Progo pada tanggal 18 Agustus 2007. BR merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari seorang ayah bernama KN (bukan nama sebenarnya) dan seorang ibu bernama APN (bukan nama sebenarnya). Kedua saudara BR berjenis kelamin laki-laki yang satu masih berada di Taman Kanak-Kanak dan yang paling kecil masih berusia 9 bulan. Sejak umur 2 bulan BR telah diasuh oleh seorang perempuan paruh baya bernama RF (bukan nama sebenarnya).

Pekerjaan KN ayah BR adalah seorang anggota kepolisian. Sedangkan APN ibu BR adalah seorang salah satu staff di sebuah sekolah. BR merupakan anak perempuan yang memiliki anggota gerak lengkap, 2 tangan dan 2 kaki. Kelainan yang terjadi pada BR yaitu berupa kekakuan pada anggota gerak yakni kedua tangan dan kedua kaki. BR tidak mampu berjalan sehingga BR harus menggunakan kursi roda untuk membantu mobilitas BR. BR juga mengalami sedikit kesulitan dalam
menggerakkan kedua tangan. Jari-jari BR tampak kaku dan kurang bisa menggenggam.

Anak-anak penyandang tunadaksa memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya

1. Pribadi :
BR memiliki rasa kurang percaya diri / malu saat diajak berkomunikasi.

2. Sosial :
BR memiliki banyak teman di sekolah dan di lingkungan rumahnya, hanya saja ketika orang orang hendak bermain BR hanya bisa menjadi penonton/penyemangat dalam bermain karena kesusahan dalam anggota gerak.

3. Agama :
BR dapat mengaji dan ketika sholat ia selalu melakukannya diatas kursi roda dengan bantuan orangtuanya.

4. Belajar :
Kemampuan BR dalam bidang akademis cenderung baik. Ketika menjawab soal dan menuliskannya di buku BR mampu menjawab dengan tepat. Namun dengan kecacatan yang di miliki BR, BR sangat sulit ketika diminta untuk maju menuliskan jawaban BR di papan tulis serta BR tidak pernah sama sekali ikut berebut dalam menjawab soal rebutan yang diberikan oleh guru. Sementara dalam bidang non akademis yang berkaitan dengan fisik maka BR akan lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain, jadi ia hanya hadir untuk menyaksikan pada saat jam pelajaran penjasorkes dan seni tari namun tidak dapat ikut berpartisipasi.

5. Keluarga :
BR memiliki keluarga yang harmonis dan menyayanginya.

6. Karier :
BR selalu ingin menjadi penulis, ia selalu semangat ingin menjadi penulis yang hebat.

Demikian studi kasus pada anak tunadaksa. Terlepas dari itu, anak tunadaksa juga merupakan anak titipan Tuhan yang harus tetap kita jaga apapun keadaanya. Karena dibalik fisik yang kurang sempurna, anak tunadaksa tetaplah hamba pilihan Tuhan yang memiliki segenap kemampuan yang mungkin saja tidak pernah dilakukan oleh orang normal pada umumnya. Dengan menerima kehadirannya, maka hal ini adalah salah satu pada cara menghilangkan ketidakpercayaan diri pada anak tunadaksa.

SUMBER :
Hesti A Pancawati, SELF EFFICACY PADA ANAK TUNADAKSA DI SD NEGERI MARGOSARI, PENGASIH, KULON PROGO (Yogyakarta : 2016) Universitas Negeri Yogyakarta, hal 63-64.

Studi Kasus (Study Case) Tunaghrita

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS
PADA KLIEN TUNAGHRITA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konseling Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M. Pd

Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B

A. Identitas Klien
Nama : AAN (Disamarkan)
Umur : 12 Tahun
Alamat : Yogyakarta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD Kelas 4 di SLB N Pembina Yogyakarta
Jenis Kebutuhan Khusus : Tunaghrita

B. Kasus
AAN teridentifikasi sebagai amak tunaghrita kategori sedang. AAN merupakan anak tunggal dan hanya tinggal bersama kedua orangtuanya. AAN setiap harinya berangkat ke sekolah bersama ibunya mengendarai sepeda, ibu AAN selalu menemani AAN di sekolah. Ayah AAN bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan ibu AAN merupakan ibu rumah tangga. AAN selalu ditemani ibunya ketika AAN di dalam kelas saat mengikuti KBM ibunya menunggi di taman, saat jam istirahat berlangsung.

AAN sudah bisa makan sendiri tetapi masih berceceran, sudah bisa toileting, sudah bisa mandi sendiri, sudah bisa memakai baju sendiri yang tidak berkancing dan sudah bisa memakai sepatu yang tidak bertali. Sedangkan kemampuan akademiknya masih dikatakan kurang seperti dalam membaca AAN belum bisa membaca kata yang sederhana tetapi sudah bisa mengenalu huruf abjad walaupun kalau diulangi kembali ia masih lupa dengan urutan nya. Kemampuan nya dalam menulis dapat dikatakan sudah rapi tetapi masih harus dibantu dengan garis putus-putus, AAN dapat menulis namanya sendiri. Sedangkan dalam kemampuan berhitung AAN belum bisa sama sekali walaupun menghitung operasi bilangan sederhana.

Anak-anak penyandang tunaghrita memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya :

1. Pribadi
AAN memiliki perilaku agresif jika fisiknya sedang kelelahan atau keadaan fisik dari cuaca

2. Sosial
AAN tidak mempunyai banyak teman karena prilaku AAN sendiri yang membuat teman-teman lain takut berteman dengan AAN. Dan AAN sering diteriaki dengan sebutan ‘bebek tuo’ oleh karena itu AAN marah dan tidak ingin bermain lagi dengan teman sebaya di lingkungan nya

3. Belajar
Kemampuan AAN dalam belajar masih dikatakan kurang seperti dalam hal membaca, mengeja dan berhitung.

4. Keluarga
AAN sangat dekat dan manja dengan ibunya, ibunya selalu bersamanya. Sedangkan hubungan AAN dengan ayahnya tidak begitu dekat, disebabkan karena ayahnya pagi bekerja dan pulang malam hari ketika AAN sudah tertidur.

5. Agama
Dalam bidang agama, ibu AAN selalu mengajak AAN shalat bersama walaupun ia sering kali hanya mengacak-acak sajadah atau mukena ibunya.

6. Karier
AAN menyukai sepak bola, namun tak jarang ia selalu ditolak untuk gabung bermain dengan teman yang lainnya.

Demikian studi kasus pada anak tunaghrita. Terlepas dari itu, anak tunaghrita juga merupakan anak titipan Tuhan yang harus tetap kita jaga apapun keadaanya. Karena dibalik fisik yang kurang sempurna, anak tunaghrita tetaplah hamba pilihan Tuhan yang memiliki segenap kemampuan yang mungkin saja tidak pernah dilakukan oleh orang normal pada umumnya. Dengan menerima kehadirannya, maka hal ini adalah salah satu pada cara menghilangkan kecemasan anak tunaghrita.

Sumber:

Asyifa, Ainun, Reza, STUDI KASUS PERILAKU AGRESIF ANAK TUNAGRAHITA KATEGORI SEDANG KELAS IV SDLB DI SLB N PEMBINA YOGYAKARTA (Yogyakarta : 2017) Universitas Negeri Yogyakarta, hal 67-89.

Studi Kasus (Study Case) Tunarungu

STUDI KASUS (STUDY CASE)
KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS
PADA KLIEN TUNA RUNGU
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konseling Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu : Peni Ramanda, M. Pd


Nama : Tazqia Safira
NIM : 191520041
Kelas : BKI – 6B


A. Identitas Klien
Nama : Mimin (Disamarkan)
Umur : 17 Tahun
Alamat : Desa Cikeusal
Hobby : Bernyanyi
Kelas : 8
Jenis Kebutuhan Khusus : Tunarungu

B. Kasus
Mimin merupakan seorang siswi yang duduk di kelas 8, ia merupakan anak perempuan yang berusia 17 tahun, mimin penyandang tunarungu tetapi mempunyai kemampuan yang setara dengan teman-teman nya dalam hal akademik. Mimin lahir dari lingkungan keluarga yang cukup mampu dalam ekonomi, mapan dalam pendidikan. Ayah mimin bekerja sebagai seorang wirausaha dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Sosok Ibu mimin sangat mensupport dalam hal apapun dan sangat menyayangi mimin, mimin memiliki saudara yang baik dan perhatian, selalu membantu setiap kesulitan yang mimin alami, baik dalam melakukan aktifitas di rumah maupun menyelesaikan tugas akademiknya.

Mimin menjadi tunarungu sejak ia lahir ke dunia, yang pada awalnya orangtua mimin tidak sadar bahwa anaknya tunarungu, setelah mimin berumur 3 tahun akhirnya orang tua mimin membawa mimin ke sebuah Rumah Sakit yang berada di daerah Serang Banten. Ternyata dokter mengatakan bahwa mimin mengalami tunarungu tingkat ringan yang dimana ia hanya dapat mendengar suara yang dekat dengan dia dan mengalami kesulitan merespon suara-suara yang agak jauh. Disekolah mimin selalu duduk ditempat paling depan tujuan nya agar mimin dapat mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya. Sudah berbagai usaha dilakukan oleh orangtua nya namun usaha tersebut tak kunjung menemukan hasil hingga keluarga hanya bisa pasrah pada takdir dari Yang Maha Kuasa.

Anak-anak penyandang tunarungu memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya :

Pribadi : Mimin merupakan pribadi yang menyenangkan, anak yang nurut kepada orang tua, dan mimin kurang merasa percaya diri karena keterbatasan yang ia miliki tersebut

Sosial : Dari aspek sosial nya mimin cenderung tidak ikut bergabung dengan masyarakat, atau teman teman yang lain untuk sekedar bermain. Ia lebih sering dirumah dan menyendiri atau bermain.

Belajar : Kemampuan mimin dalam belajar sama seperti anak yang lainnya, ia suka bernyanyi dan dapat memahami pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Namun terkadang ia juga sulit berkonsentrasi dalam proses belajar.

Keluarga : Di keluarganya mimin sangat diterima oleh seluruh anggota keluarganya, bahkan semua menyayangi mimin karena ia anak yang cantik dan baik, bahkan orangtua nya pun sudah menerima takdir ini.

Agama : Mimin anak yang rajin shalat dan rutin mengaji bersama ibunya dirumah.

Karier : Dalam aspek karier ini, sebetulnya mimin mempunyai hobby bernyanyi, dan ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi yang dapat ditonton oleh seluruh orang yang ada di Indonesia

Demikian studi kasus pada anak tunarungu. Terlepas dari itu, anak tunarungu juga merupakan anak titipan Tuhan yang harus tetap kita jaga apapun keadaanya. Karena dibalik fisik yang kurang sempurna, anak tunarungu tetaplah hamba pilihan Tuhan yang memiliki segenap kemampuan yang mungkin saja tidak pernah dilakukan oleh orang normal pada umumnya. Dengan menerima kehadirannya, maka hal ini adalah salah satu pada cara menghilangkan kecemasan anak tunarungu.

Berdasarkan studi kasus yang saya amati pada anak tunarungu. Hasilnya klien (Mimin) mempunyai masalah dalam bidang Pribadi dan Sosialnya, menurut saya mengapa ia memiliki masalah dalam bidang sosial nya karena adanya rasa ketidakpercayaan diri dari pribadinya. Mimin tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan nya karena ia merasa tidak percaya diri akan kekurangan yang mimin miliki.

Dengan begitu saya menyimpulkan untuk memberikan Pendekatan Behavioral. Menurut saya, dengan menggunakan pendekatan behavioral ini Mimin akan mengalami perubahan tingkah laku, dari yang awalnya merasa tidak percaya diri menjadi percaya diri. Karena Pendekatan behavioral adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Untuk mengatasi masalah ketidakpercayaan diri maka saya memilih memberikan Teknik Konseling Individual dan Teknik Bimbingan Kelompok. Karena dengan teknik konseling individual konselor berupaya membantu klien secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan Anak Tunarungu bernuansa emosional, sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia
batinnya (disclosure).

Atau dapat juga dengan menggunakan Teknik Bimbingan Kelompok untuk bisa mengamati kekompakan dan
keaktifan anak tunarungu bersama teman temannya, agar anak mau berekspresi dan percaya diri dalam proses bimbingan kelompok ini.

Sekian…

Semoga Bermanfat dan Terimakasih

Sumber : Suhendra Dedi, UPAYA DALAM MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI ANAK TUNAGRAHITA DI SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI TANJUNG
JABUNG TIMUR (Jambi : 2021), UIN Sutha Jambi, Hal. 52-54

Pratiwi, Novianti, Pendekatan terapi behavioral dalam meningkatkan kepercayaan diri santri : penelitian di pondok Pesantren Nurul Huda (Bandung : 2016), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, hal.20

Catatan Pertemuan 2 MK Konseling Berkebutuhan Khusus.

Assalamu’alaikum wr. wb

Salam sejahtera untuk kita semua.

Pada catatan pertama ini saya akan sedikit memberikan ilmu kepada teman-teman semua yang membacanya yaitu tentang “Konsep Dasar Konseling Berkebutuhan Khusus”

KONSEP DASAR KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Pengertian Konseling Berkebutuhan Khusus.

Menurut Arthur J. Jones (1970) mengartikan bimbingan sebagai “The help given by one person to another in making choices and adjustment and in solving problems”.
Menurut Jones, konseling adalah kegiatan yang dikumpulkan atas permasalahan
tertentu untuk kemudian diberikan cara penyelesainnya oleh yang bersangkutan.

Menurut Saya, Bimbingan Konseling adalah upaya pemberian bantuan oleh
tenaga profesional (Konselor) baik individu ataupun kelompok dalam
menyelesaikan masalah dan untuk meningkatkan potensi diri.

Konsep bimbingan konseling telah dikenalkan oleh Frank pada abad ke-20, secara umum konseling merupakan proses yang didalam nya mengandung penekanan agar klien dapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya.
Dapat kita simpulkan bahwa konseling berkebutuhan khusus adalah upaya pemberian layanan secara khusus kepada individu atau kelompok dengan perlakuan dan perhatian secara khusus.

Dalam melakukan proses konseling seorang konselor dituntut untuk bisa menangani klien dengan baik dan benar, karena klien itu berbeda-beda seperti contohnya klien yang berkebutuhan khusus terutama pada anak berkebutuhan khusus.
Cara melakukan pendekatan dengan anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya dan tentu dengan teknik yang berbeda pula.

B. Faktor penyebab anak berkebutuhan khusus yaitu terbagi dalam beberapa fase, antara lain :

1. Fase pra kelahiran meliputi gangguan genetik (Kelainan kromosom,
transformasi), infeksi pada kehamilan,
keracunan saat hamil, pengguguran, dan lahir prematur.
2. Fase proses kelahiran meliputi Proses kelahiran lama (Anoxia), prematur, kurangnya oksigen, melahirkan dengan bantuan alat dan masa kehamilan terlalu lama.
3. Fase setelah proses kelahiran meliputi penyakit infeksi bakteri (TBC/ virus), kurangnya gizi dan nutrisi, faktor kecelakaan dan keracunan.

C. Hak dan Kewajiban Anak Berkebutuhan Khusus.

Anak berkebutuhan khusus juga berhak mendapatkan pelayanan seperti anak normal lain, diantara nya:
1. Anak berkebutuhan khusus mempunyai kewajiban untuk menempuh pendidikan dasar. Walaupun mereka berkebutuhan khusus tetapi mereka tetap memiliki kewajiban untuk menempuh pendidikan dasar untuk bekal masa depannya.
2. Anak berkebutuhan khusus mempunyai hak yang dapat menjamin keberlangsungan hidupnya. Salah satunya yaitu berhak melanjutkan pendidikan nya, jika mereka memiliki kemampuan yang sesuai maka mereka berhak mengikuti pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan nya.

Sekian tulisan dari saya, semoga dapat membantu teman-teman yang membacanya. Terimakasih sampai bertemu di tulisan selanjutnya.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Sumber : Jurnal penelitian dengan judul “Konseling Berkebutuhan Khusus” Karya Lukman Fahmi, S.Ag, M.Pd
https://text-id.123dok.com/document/wyene077y-hak-dan-kewajiban-anak-berkebutuhan-khusus.html

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai